Bali, 3 Agustus 2025 – Sustainable Fashion Fest (SFF) 2025 resmi ditutup dengan penuh semangat dan antusiasme. Selama dua hari penyelenggaraan, 2–3 Agustus 2025, festival yang diinisiasi oleh TRI Cycle berkolaborasi dengan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Kementerian Perindustrian RI, berhasil menarik perhatian 866 pengunjung serta menghadirkan pengalaman yang memadukan edukasi, kreativitas, dan aksi nyata menuju fesyen berkelanjutan.
Dengan tema “Celebrate the Better Fashion”, SFF 2025 menampilkan berbagai program inspiratif, di antaranya fashion show delapan sustainable brand, pameran 17 karya pemenang Indonesia Fashion and Craft Award (IFCA), serta workshop kreatif seperti ecoprint, plastic fusion, dan crochet. Festival ini juga menghadirkan tiga sesi talkshow edukatif dengan lebih dari 120 peserta, Repair Corner bersama komunitas penjahit lokal, serta Clothes Swap yang berhasil mengumpulkan 760 kilogram pakaian bekas. Sementara itu, Bazar IKM menghadirkan 39 brand dari Bali, Jawa, Yogyakarta, Lampung, Papua, dan Jakarta dengan total transaksi penjualan lebih dari Rp 58 juta. Tak ketinggalan, Klinik SINI BISA mendapat perhatian positif dengan layanan konsultasi legalitas usaha seperti NIB, SIINas, dan TKDN IK bagi pelaku IKM fesyen.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, Dickie Sulistya menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengembangkan industri fesyen berkelanjutan. “Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa industri fesyen dapat berkembang dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha dan masyarakat. Ke depan, kami berharap tidak hanya pihak swasta yang terlibat, tetapi juga pemerintah dapat merangkul IKM, komunitas, dan pihak swasta untuk bekerja sama,” ujarnya, Sabtu (2/8) Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang telah diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE), Badan Siber dan Sandi Negara
Momen penting dalam SFF 2025 turut ditandai dengan peluncuran dua inisiatif baru yang digagas oleh Brand TRI Cycle, alumni program Creative Business Incubator BPIFK 2018, yakni Rekynd Hub dan Brickini. Kehadiran kedua inisiatif ini semakin menegaskan posisi festival sebagai pusat inovasi keberlanjutan berbasis komunitas. Rekynd Hub diperkenalkan sebagai wadah pengelolaan tekstil dengan konsep textile circularity, di mana pengunjung dapat menyumbangkan pakaian bekas, mengolahnya kembali, sekaligus membeli pakaian preloved lokal (non-impor) melalui sistem unik berbasis berat. Pendekatan ini tidak hanya membuat konsumsi fesyen lebih inklusif, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menghargai pakaian dari sisi fungsi dan keberlanjutan, bukan semata tren.
Annisa Fauziah, founder Tri Cycle menuturkan bahwa Brickini merupakan hasil kolaborasi TRI Cycle dan Parongpong Raw Lab yang mengolah limbah pakaian renang dari produsen swimwear di Bali. “Melalui Brickini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah tekstil dapat diberi nilai baru, tidak hanya sebatas pakaian, tetapi juga diolah menjadi material fungsional yang bermanfaat misalnya menjadi interior dan furniture,” ujarnya, Sabtu (2/8)
Indonesia sendiri tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah tekstil. Laporan Global Green Growth Institute (GGGI) mencatat timbulan limbah tekstil nasional mencapai 2,3 juta ton per tahun dan berpotensi meningkat hingga 70 persen dalam beberapa tahun mendatang jika tidak dilakukan intervensi. Sementara itu, menurut Geneva Environment Network, secara global hanya 8 persen serat tekstil yang berasal dari material daur ulang, dan praktik textile-to-textile recycling masih sangat terbatas, yakni di bawah 1 persen. Melalui penyelenggaraan SFF 2025, diharapkan tumbuh kesadaran publik serta terjalin kolaborasi lintas sektor untuk menekan limbah fesyen sekaligus memperkuat peran industri kreatif lokal dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan.