Denpasar, 28 Oktober 2025 – Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) turut berpartisipasi dalam kegiatan Bali Fashion Network (BFN) 2026 yang diselenggarakan oleh Paramatex, salah satu pemasok kain terkemuka di Bali, pada 18 Oktober 2025 yang bertempat di International Conference Center (ICC), Bali. Dengan mengusung tema “Innovation, Sustainability, Collaboration”, ajang ini menjadi wadah strategis bagi desainer, produsen, dan pemerintah untuk berkolaborasi menciptakan inovasi fesyen yang berdaya saing global serta mendorong tumbuhnya wirausaha kreatif dan berkelanjutan.
Acara BFN 2026 menghadirkan berbagai agenda utama, seperti business networking sessions, brand showcases, dan talkshow inspiratif. Penyelenggaraan tahun ini diikuti oleh 70 tenant dari berbagai sektor pendukung fesyen dan berhasil menarik sekitar 700 pengunjung sepanjang kegiatan berlangsung. Dalam kesempatan tersebut, BPIFK mengikutsertakan lima IKM binaan, yaitu Aum Apparel, Casa Annie, Kekean Wastra Gallery, Tinizhop, dan Theacastor, yang menampilkan karya unggulan mereka dalam rangkaian acara BFN 2026. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, para peserta berkesempatan menjalin jejaring dan kerja sama bisnis dengan mitra potensial, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah capaian gemilang berhasil diraih oleh IKM binaan BPIFK dalam acara ini. Tinizhop mencatat peningkatan dalam penjualan dan pemesanan produk dari buyer lokal sepanjang kegiatan. Sementara itu, Casa Annie dan Theacastor sukses menarik perhatian potentialbuyer internasional, masing-masing dari Australia dan Rusia, yang membuka peluang kerja sama ekspor serta perluasan pasar produk fesyen Indonesia di kancah global.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, BFN 2026 secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa subsektor tekstil dan pakaian jadi terus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional pada triwulan II tahun 2025 mencapai 16,92 persen, dengan pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 4,64 persen (year-on-year). “Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri tekstil dan pakaian jadi nasional mampu tetap produktif dan adaptif di tengah dinamika ekonomi global serta perubahan tren pasar yang cepat,” ujar Reni Yanita, Sabtu (18/10). Beliau menambahkan, potensi ekspor industri fesyen Indonesia masih sangat besar. Pada tahun 2024, nilai ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai US$196,54 miliar, dengan kontribusi produk tekstil dan pakaian jadi sebesar US$11,96 miliar, yang menunjukkan produk fesyen nasional memiliki daya saing tinggi di pasar global. “Partisipasi BPIFK dalam BFN 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat promosi dan jejaring pelaku IKM fesyen nasional. Kementerian Perindustrian akan terus mendukung peningkatan kapasitas IKM melalui pendampingan, fasilitasi promosi, serta penguatan kolaborasi lintas sektor agar hasilnya dapat berkelanjutan,” tutup Reni Yanita, Sabtu (18/10).