Screen Shot 2025-12-31 at 14.56.38.png

Denpasar, 16 Desember 2025 – Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya
(BPIFK) bekerja sama dengan Business & Export Development Organization (BEDO)
telah menyelenggarakan Program Manajemen, Akselerasi, dan Transformasi
(MANTRA) Bali. Program ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan produktivitas
dan daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) fesyen dan kriya melalui penerapan
praktik manajemen yang bertanggung jawab dan kolaboratif berbasis ILO-SCORE.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Perindustrian melalui Balai
Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya - Ditjen IKMA dalam mendorong penguatan
pondasi manajemen usaha IKM agar mampu tumbuh berkelanjutan dan adaptif
terhadap dinamika industri.
Program MANTRA Bali dilaksanakan pada 12 November sampai dengan 12
Desember 2025 melalui rangkaian kegiatan sosialisasi dan kick-off, kurasi peserta,
pembelajaran di kelas, kunjungan industri, coaching langsung di tempat usaha, serta
sesi presentasi akhir. Pendekatan ini dirancang untuk membantu pelaku IKM
mengidentifikasi permasalahan utama di tempat kerja, menyusun rencana perbaikan,
serta mengimplementasikan perubahan nyata dalam aspek produktivitas, efisiensi,
kualitas kerja, dan hubungan kerja.
Sebanyak 4 (empat) IKM terpilih mengikuti Program MANTRA Bali, yaitu Geokraft
(Kota Denpasar); Amod Bali (Kabupaten Gianyar); Jaya Dewata (Kabupaten Gianyar);
serta TB Shop (Kabupaten Badung). Para peserta melaksanakan perbaikan bertahap
yang disesuaikan dengan kondisi awal masing-masing unit usaha guna memperkuat
pondasi manajemen operasional. Geokraft memperkuat pengendalian produksi
melalui papan monitoring order, penataan pengarsipan pola, dan pengelompokan
material sisa produksi. Amod Bali membangun sistem pemantauan progres produksi
berbasis timeline yang transparan disertai penataan dan pelabelan material kerja,
sehingga koordinasi dan keteraturan area produksi meningkat. Jaya Dewata mulai
menerapkan aspek keselamatan dan keteraturan kerja melalui penyediaan sarana
P3K dan pelabelan bahan baku, sementara TB Shop melakukan penataan dan
pelabelan area kerja untuk memperjelas alur kerja dan memudahkan pengawasan.
Seluruh perbaikan tersebut dipresentasikan dalam sesi presentasi akhir sebagai
refleksi transformasi bertahap menuju sistem kerja yang lebih produktif dan
berkelanjutan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kementerian Perindustrian,
Reni Yanita, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas IKM perlu dimulai dari
pembenahan manajemen dan sistem kerja di tingkat usaha. “Program MANTRA Bali
menjadi contoh konkret bagaimana penataan manajemen produksi, penguatan disiplin
kerja, serta kolaborasi antara manajemen dan pekerja dapat mendorong peningkatan
produktivitas IKM. Transformasi cara kerja di tingkat usaha ini penting agar IKM fesyen
dan kriya semakin efisien, adaptif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya,
Dickie Sulistya Aprilyanto, menyampaikan bahwa Program MANTRA Bali tidak hanya
berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada perubahan pola pikir
dan budaya kerja di lingkungan usaha. “Melalui MANTRA Bali, kami mendorong IKM
untuk berani berbenah dari hal-hal mendasar, membangun manajemen yang lebih
tertata, kolaboratif, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan sebagai pondasi
peningkatan produktivitas dan daya saing ke depan,” ujarnya, Jumat (12/12).
BPIFK berharap implementasi Program MANTRA Bali dapat menjadi model
pengembangan IKM fesyen dan kriya berbasis manajemen berkelanjutan yang secara
nyata mendorong peningkatan produktivitas kerja, efisiensi proses usaha, serta
kualitas hubungan kerja, sekaligus memperkuat daya saing industri fesyen dan kriya
nasional.

powel

Admin

Author