Mengangkat konsep desain berkelanjutan dengan memaksimalkan pola cutting bahan berbentuk persegi tanpa menyisakan limbah perca pada koleksi busana. Serta memanpaatkan pewarnaan alami dari limbah kulit Bawang Bombai dan Alpukat sebagai pewarna alami kain dengan pengaplikasian motif menggunakan tepung pengental makanan yg dilarutkan dengan Tunjung sebagai pembentuk motif dan warna. Selain itu memanfaatkan potongan perca yang dibentuk sedemikian rupa menghasilkan motif Gorga Batak yang memiliki makna dan filosofi.
Dari ketersediaan bahan baku kain, di Pajak Sambu (Medan) terdapat para pedagang Ibu-ibu dan Bapak-Bapak yang menjual bahan sisa garmen atau pabrik yang sangat berkualitas dan beragam. Harga jual dari kain-kain tersebut sangat rendah dibandingkan di pasaran. Selain itu kebanyakan kain berbahan katun dan linen yang dapat diolah kembali dengan mewarnai kain dengan pewarna alam hingga memiliki nilai jual yang tinggi. Disisi lain para ibu-ibu pembersih kulit bawang di jl Veteran Pusat Pasar Medan yang jaraknya tidak jaug dari Pajak sambu tersebut melakukan pekerjaan membersikan bawang dari kulit-kulit luar dan dibuang sia-sia yang kulit bawang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alam yang cantik dan sangat diserap oleh kain berbahan serat alam. Selain itu banyak pula penjual jus buah pinggir jalan membuang kulit dan biji alvukat karena mereka tidak dapat memanfaatkannya lagi. padahal biji dan kulit alvukat dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami kain. Juga banyak ditemukan penjual es kelapa muda membuang limbah kulit/serabuk kelapa muda yang jumlahnya sangat banyak. Ketiga bahan buangan ini dapat dimanfaatkan menjadi bahan pewarna alami kain yang sangat cantik. selain meningkatkan nilai jual kain, hal ini juga dapat memperpanjang rantai buangan limbah yg tidak langsung ke lingkungan.
Indonesia Fashion and Craft Awards 2024
Fesyen
Jl. Perhubungan no.67A
Produk