figure
tenant

Asih Asuh

Putu Ayu Adiyanti, S.Tr.Ds

Asih Asuh merupakan gerakan untuk mengimplementasikan “Neighborhood Spirit” dengan tujuan menggerakkan ekonomi kreatif lingkungan sekitar, mengelola limbah dan sisa kain menjadi fashion items yang lebih bernilai serta sebagai upaya kampanye Slow Fashion beretika, berbudaya, dan ramah lingkungan. Asih Asuh berkonsep Waste-legant yakni pengolahan sisa kain garment dengan kombinasi tenun Endek Bali dilengkapi details hand embroidery ragam hias Pepatran dan Keketusan khas Bali. Prosesnya dilakukan antar konveksi, penjahit rumahan, penenun kain, pengrajin bordir dan masyarakat sekitar. Kami melakukan improvement pada penentuan harga jual, sebab kami berkomitmen menciptakan produk untuk mendukung konsep Slow Fashion yang memperhatikan etika produksi, kesejahteraan artisan dan eksklusifitas produk namun tetap dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Improvement harga dapat memaksimalkan kualitas produk dan membuat konsumen lebih menghargai dan merawat produk dengan lebih baik. Kami memberikan GARANSI kualitas jahitan, bahan, dan kenyamanan serta mengembangkan story inspiratif di setiap items agar mampu memberikan product knowledge yang maksimal kepada customer kami.

Saat ini remaja enggan untuk menggunakan kain tradisional pada kegiatan sehari-hari. Mereka beranggapan bahwa kain tradisional cenderung “formal”, “tua” dan “kuno”. Di Bali sendiri, sudah ada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek/ Kain Tradisional Bali sebagai aksi terhadap pelestarian kain tenun Endek, namun anak muda hanya mau menggunakan pakaian dengan kain tenun Endek pada kegiatan sekolah maupun perkantoran saja, belum sampai pada kegiatan sehari-hari (seperti hangout, menonton konser, dll). Atas dasar ini, designer mendesain motif tenun endek yang lebih modern, timeless dan ringan dengan brand NÉOTHICS sehingga dapat digunakan pada acara-acara santai. Pada project Asih Asuh ini, desainer mengangkat Konsep Waste-legant (pemanfaatan pakaian bekas/ kain sisa produksi menjadi items yang elegant). Konsep Waste-legant berangkat dari fenomena remaja saat ini yang cenderung konsumtif sehingga mereka menghasilkan lebih banyak pakaian bekas yang hanya 1x atau 2x pakai. Gaya konsumtif ini juga menyebabkan penjahit maupun konveksi menghasilkan lebih banyak sisa kain dalam proses produksi pakaian. Disini desainer ingin mengkombinasikan unsur etnik dari tenun endek Bali dan konsep Waste-legant menjadi items limited edition yang multifungsi, dinamis, timeless dan memiliki durability yang tinggi. Terdapat element hand embroidery yang merupakan stilasi dari ragam hias khas Bali seperti Pepatran dan Keketusan sebagai wujud pelestarian atas keberadaan motif hias Bali yang saat ini tentu tidak banyak remaja mengetahui nama maupun makna dari motif Bali tersebut. Asih Asuh ini melibatkan beberapa artisan/pihak dalam proses pengembangannya, antara lain: Penjahit, konveksi/ garment dan masyarakat untuk penyediaan material utama berupa pakaian bekas/ sisa kain produksi pakaian serta merangkul pertenunan kain tenun Endek Bali Sri Sedana Sukawati untuk memproduksi kain tenun Endek NEOTHICS (pertenunan ini melibatkan penenun dari masyarakat sekitar daerah Sukawati Gianyar seperti karyawan PHK terdampak Covid, nenek-nenek, maupun ibu rumah tangga daerah sekitar), juga berkolaborasi dengan Bija Bali Garment serta masyarakat seputar daerah Kesiman Kertalangu (area saya tinggal saat ini) untuk membuat details hand embroidery pada items Asih Asuh yang akan di produksi. Karena menggunakan hampir 90% bahan sisa maupun bekas pakai, items Asih Asuh nantinya akan bersifat sangat Limited karena desain akan menyesuaikan persediaan material yang available, untuk itu dipastikan tidak akan ada items yang sama persis setiap produksi items. Ini tentu menambah value dari produk tersebut. Asih Asuh tidak hanya merupakan sebuah judul koleksi, melainkan sebuah gerakan kebersamaan yang mengaplikasikan konsep Sustainability yakni people-planet-purpose-prosperity untuk memberdayakan potensi yang ada di lingkungan sekitar saya, baik material, sumber daya manusia serta upaya pelestarian budaya sebagai langkah penciptaan sebuah produk fashion yang unik, kampanye fashion yang beretika, berbudaya, ramah lingkungan serta memiliki daya pakai dan nilai jual yang maksimal.

Tahun:

Indonesia Fashion and Craft Awards 2023

Kategori:

Fesyen

Alamat:

Jl Sekar Tunjung X No 20 Kesiman Kertalangu, Denpasar Bali

Produk

Asih Asuh

figure
figure