Busana sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia turut dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Perkembangan trend fashion yang begitu cepat seiring dengan perkembangan teknologi mempengaruhi gaya berpakaian manusia yang ingin selalu menikuti trend bahkan tidak mau ketinggalan trend. Seiring dengan hal tersebut maka mewabahnya industry fast fashion menjadi alasan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan perkembangan fashion. Maraknya industri fast fashion menyisakan sampah perca tekstil yang dibuang langsung ke lingkungan yang kita tahu bahwa tekstil, utamanya bahan denim dan renda, itu butuh waktu bertahun- tahun agar bisa terurai sehingga mencemari lingkungan. Bahkan penjahit kebaya rumahan juga menyisahkan banyak limbah perca renda ke lingkungan. Kurangnya kesadaran produsen pakaian akan sustainability menyisahkan banyak limbah kain perca denim dan renda ke lingkungan. Sustainable fashion bukan hanya bicara pemakaian bahan alami sebagai bahan baku busana, sustainable fashion yang sebenarnya adalah bagaimana menggunakan kembali bahan yang sudah ada menjadi suatu produk fashion yang kreatif dan unik tanpa merusak alam. Melihat masalah limbah tekstil dalam lingkungan, maka perlu diberi solusi dengan memanfaatkan bahan limbah testil untuk menjadi suatu produk fashion yang baru dengan tampilan yang lebih unik dan menarik. Upcycle sebagai salah satu wujud sustainable fashion dalam mengurangi limbah tekstil dengan pemanfaatan limbah untuk membuat busana yang menarik dan memiliki nilai kearifan lokal. Berdasarkan tema lomba “NEIGHBOURHOOD SPIRIT” perancang ingin membuat busana yang bisa menyadarkan masyarakat akan sustainable fashion dengan penggunaan sisa kain perca denim, dan linen sebagai bahan dasar pembuatan busana dan perca kain renda dari usaha penjahit kebaya rumahan untuk membuat motif gorga busana. Judul rancangan yang akan dibuat adalah” DISAYANG (DIBUANG SAYANG)” sebagai wujud kasih sayang terhadap lingkungan dimana perancang melihat banyak limbah kain perca usaha konveksi dan limbah perca renda dari usaha jahit kebaya rumahan yang mana perca itu sebenarnya memiliki manfaat dan nilai jika dibuat menjadi suatu produk fashion dengan ornament gorga. Gorga adalah ornamen batak toba yang memiliki nilai kearifan lokal yang setiap bentuknya memiliki arti. Adapun jenis motif gorga yang akan dibuat pada busana adalah gorga jenggar atau ulupaung. Teknik upcycle membuat motif gorga pada produk ini bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah lingkungan, dan memperkenalkan keunikan motif Batak Toba. Busana yang akan dirancang yaitu busana casual office untuk wanita dan pria berupa outer dengan mengusung konsep busana ready to wear yang simple dan longgar, menyesuaikan pada gaya hidup masyarakat, utamanya Indonesia di era teknologi yang mana gaya hidupnya lebih bebas dan praktis atau simple. Tujuan pembuatan busana yang longgar dan simpel lebih memudahkan untuk pemakaian dan memberi kebebasan ruang gerak. Busana yang akan dibuat memiliki gaya busana yang nyaman, lebih mementingkan fungsi, tidak banyak detail dan warna yang kuat. Pembuatan busana menggunaan bahan sisa denim, linen dengan cuttingan busana yang sederhana. Teknik pembuatan motif gorga memanfaatkan limbah brokat yang diberi pewarna alami dengan cara dicelup kemudian digunting menjadi potongan yang lebih kecil, lalu didesain menjadi bentuk gorga dengan penyelesaian teknik sulaman dan bordir untuk detail gorga sebagai bentuk kerjaasama dengan IKM bordir. Pembuatan keseluruhan pola busana memanfaatkan koran bekas sebagai media membuat pola dengan tujuan memanfaatkan dan mengurangi sampah. Proses pembuatan hingga pemasaran busana membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Untuk proses produksi busana akan melibatkan para penjahit rumahan dan IKM bordir dan alumni jurusan Tata Busana atau jurusan seni. Sasaran pasar pada pembuatan busana ini adalah anak muda usia 22- 40 tahun.
Konveksi dan penjahit kebaya rumahan menyisakan sampah perca tekstil yang dibuang langsung ke lingkungan yang mana butuh waktu bertahun- tahun agar bisa terurai sehingga mencemari lingkungan. Berdasarkan tema lomba “NEIGHBOURHOOD SPIRIT” perancang ingin membuat busana dengan judul ” DIBUANG SAYANG” sebagai salah satu bentuk kasih sayang perancang terhadap lingkungan dengan menciptakan produk busana casual office untuk wanita dan pria berupa outer dengan mengusung konsep busana ready to wear yang simple dan unik yang bisa menyadarkan masyarakat akan sustainable fashion dengan penggunaan sisa kain perca denim, linen dan renda sebagai bahan dasar pembuatan busana. Desain busana memiliki keunikan motif gorga Batak Toba dengan memanfaatkan limbah brokat yang diberi pewarna alami dengan cara dicelup kemudian digunting menjadi potongan yang lebih kecil, lalu didesain menjadi bentuk gorga dengan penyelesaian teknik sulaman dan bordir. Busana ini memiliki model yang stylish, jahitan yang rapih dan bersih, terdapat aksen dan value budaya, unik dan limited, dapat dipakai dalam berbagai kesempatan dan dengan memakai busana ini berarti turut menjaga keberlanjutan dan kesehatan lingkungan.
Indonesia Fashion and Craft Awards 2024
Fesyen
Perumahan Taman Puspa Sari blok AA/16, Candi,Sidoarjo
Produk