Konsep Desain mengangkat judul Hariara Pohon Hariara adalah mempunyai makna sebagai kehidupan yang sejahtera. Hal tersebut dimaknai dari beberapa filosofi budaya masyarakat Batak dalam bagian yang terdapat di pohon hariara ini. Seperti pada bagian daun yang mempunyai makna perlindungan dari segala marabahaya, bagian batang yang mempunyai makna pembawa rezeki dan keberkahan, dan kemudian bagian akar yang mempunyai makna persatuan antara manusia dengan manusia serta keselarasan dengan alam di sekitarnya. Sehingga filosofi yang terdapat di pohon ini pun kini menjadi nasihat bagi masyarakat Batak agar dapat hidup seperti halnya pohon hariara yang dapat berguna bagi sesama. Pohon ini juga memiliki makna filosofis bagi orang Batak, Hariara sering disebut sebagai pohon hidupnnya suku Batak karena pohon ini dapat tumbuh tinggi besar, kokoh dan tahan terhadap berbagai cuaca dengan masa hidup yang lama. Daunnya yang lebat membuat daerah sekitarnya menjadi sejuk sehingga sering orang-orang berteduh dibawah pohon sambil membicarakan banyak hal. Berbagai jenis makhluk hidup juga hidup dan mencari makan dipohon ini. Hal tersebutlah yang membawa saya untuk merancang Desain Karya ini dengan Kombinasi dari bahan Limbah Thrifting yang berada di pasar-pasar kota medan, penggabungan bahan lainnya seperti Kain Batik Tulis dengan Motif Hariara dan Ragam Hias Sumatera Utara. Batik Tulis dengan teknik menggunakan Pewarna Alami yang berasal dari Limbah Basah yang berasal dari pasar-pasar Kota Medan, Seperti Sayur-sayuran, Kulit Bawang, Sabuk Kelapa, Kulit Jengkol, Kopi dan bahan basah lainnya yang dapat diolah menjadi Pewarna Alami.
Latar Belakang Masalah 1. Permasalahan Limbah Pakaian di Medan Peningkatan Volume Limbah Pakaian: Kota Medan, seperti banyak kota besar lainnya, menghadapi peningkatan volume limbah pakaian akibat tren fast fashion dan konsumsi yang tinggi. Banyak pakaian yang dibuang masih layak pakai atau dapat didaur ulang. Akumulasi pakaian bekas ini menimbulkan masalah lingkungan yang signifikan. Dampak Lingkungan: Limbah tekstil memerlukan waktu yang lama untuk terurai dan selama proses tersebut, menghasilkan emisi gas rumah kaca serta polusi air dan tanah. Pengelolaan limbah yang tidak efisien memperburuk masalah ini. 2. Pertumbuhan Industri Thrifting Popularitas Thrifting: Tren thrifting semakin populer di Medan, dengan banyaknya toko dan pasar loak yang menjual pakaian bekas. Namun, tidak semua pakaian yang masuk ke toko thrift terjual, menyebabkan akumulasi limbah tekstil yang tidak termanfaatkan. Potensi Ekonomi: Pakaian bekas dari thrifting memiliki potensi ekonomi yang besar jika diolah kembali menjadi produk fashion yang bernilai tinggi. Ini dapat membuka peluang untuk menciptakan nilai tambah dan memberdayakan ekonomi lokal. 3. Kesadaran akan Keberlanjutan Tren Global: Kesadaran global tentang keberlanjutan dalam industri fashion semakin meningkat. Konsumen kini lebih peduli terhadap asal-usul pakaian mereka dan dampaknya terhadap lingkungan. Inisiatif Lokal: Di Medan, beberapa inisiatif lokal mulai bermunculan untuk mengatasi masalah limbah pakaian, namun masih diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur dan terpadu untuk menangani masalah ini secara efektif. 4. Peluang untuk Inovasi dan Kreativitas Desain dan Kreativitas: Limbah tekstil dari thrifting dapat menjadi bahan dasar untuk produk fashion yang unik dan inovatif. Desainer dapat memanfaatkan kain bekas untuk menciptakan produk yang berbeda dan menarik, memberikan sentuhan artistik dan nilai estetika yang tinggi. Nilai Estetika: Produk fashion dari bahan bekas sering kali memiliki nilai estetika yang unik dan dapat menarik konsumen yang mencari keunikan dan originalitas. Limbah Basah sebagai Pewarna Alami untuk Batik Sumatera Utara 1. Masalah Limbah Basah Jenis Limbah Basah: Limbah basah, seperti sisa makanan, limbah pertanian, dan bahan organik lainnya, seringkali tidak dimanfaatkan dengan baik dan akhirnya menjadi polusi lingkungan. Pengelolaan yang Buruk: Di banyak wilayah, termasuk Sumatera Utara, pengelolaan limbah basah sering kali kurang efisien, yang menyebabkan penumpukan limbah dan masalah kesehatan masyarakat. 2. Pewarnaan Alami sebagai Solusi Keuntungan Pewarna Alami: Pewarna alami dari limbah basah menawarkan solusi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pewarna alami ini tidak mengandung bahan kimia berbahaya dan memiliki dampak yang lebih kecil terhadap lingkungan dibandingkan pewarna sintetis. Kearifan Lokal: Memanfaatkan limbah basah untuk pewarnaan alami juga sejalan dengan kearifan lokal dan tradisi penggunaan bahan-bahan alami dalam proses pembuatan batik di Sumatera Utara. 3. Potensi Limbah Basah sebagai Pewarna Alami Sumber Pewarna Alami: Banyak limbah basah yang dapat digunakan sebagai pewarna alami, seperti kulit buah, daun, dan sisa-sisa sayuran. Misalnya, kulit bawang merah untuk warna merah, kulit mangga untuk warna kuning, dan daun mangga untuk warna hijau. Kulit Kelapa menjadi warna cokleat, Kulit Rambutan menjadi warna hitam, Kulit Jengkol menjadi warna abu-abu dal lainnya. Proses Pewarnaan: Proses pewarnaan alami melibatkan ekstraksi pigmen dari bahan organik dan penerapannya pada kain batik. Ini memerlukan penelitian dan pengembangan untuk memastikan stabilitas warna dan kualitas hasil akhir. 4. Dampak Positif Pengurangan Limbah: Memanfaatkan limbah basah sebagai pewarna alami membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang dan mengurangi polusi lingkungan. Nilai Tambah Produk: Produk batik yang diwarnai dengan pewarna alami dari limbah basah dapat memiliki nilai tambah sebagai produk ramah lingkungan, menarik konsumen yang peduli dengan keberlanjutan. Pemberdayaan Masyarakat: Inisiatif ini dapat memberdayakan masyarakat lokal dengan membuka peluang kerja baru dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam pengolahan limbah dan produksi batik. Kesimpulan Mengangkat limbah thrifting di kota Medan menjadi produk fashion bernilai tinggi dan memanfaatkan limbah basah sebagai pewarna alami untuk bahan batik Sumatera Utara adalah solusi inovatif dan berkelanjutan untuk masalah lingkungan yang dihadapi. Dengan pendekatan yang tepat, ini tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan mempromosikan keberlanjutan. Tantangan seperti persepsi konsumen dan konsistensi kualitas dapat diatasi melalui edukasi, inovasi, dan dukungan dari berbagai pihak. Sesuai harapan desain ini dapat menjadi peluang bagi kami untuk memanfaatkan permasalahaan yang berada disekitar kami dengan pengolahaan kain bekas limbah thrifting dan limbah basah di pasar kota medan dapat menjadi produk yang sustainable yang berkelanjutan dengan kerja sama para pelaku IKM di kota medan dapat bekerjasama dan berkolaborasi dapat mencipatkan produk yang bernilai dan layak jual. dapat mencipatkaan lapangan pekerjaan bagi sekitar seperti Remaja yang putus sekolah, atau yang sudah tamat untuk batu loncatan, ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan sehingga memenuhi kebutuhan Rumah tangg dan keluargnya.
Indonesia Fashion and Craft Awards 2024
Fesyen
JALAN LINGGA RAYA, LK XX.Kel.KWALA BEKALA, Kec.MEDAN JOHOR
Produk