Seringkali potongan kulit sisa diabaikan dan berakhir sebagai limbah. Namun, dari keyakinan akan potensi yang tersembunyi di setiap potongan kulit, muncul sebuah inisiatif luar biasa, dengan tujuan menghidupkan kembali bahan yang tidak lagi terpakai menjadi produk yang menggabungkan keindahan dan fungsionalitas. Inisiatif ini bukan hanya tentang memperpanjang masa pakai material, tetapi juga mengadopsi teknik modular interlocking sebagai bentuk ekspresi seni yang menggabungkan potongan abstrak menjadi satu kesatuan. Dengan menghubungkan masa lalu dengan masa kini, produk ini membawa daya tarik yang menjanjikan untuk masa depan. Terinspirasi oleh keindahan Teratai, tas ini menggabungkan bentuk lingkaran daun yang melebar dengan kelopak bunga yang memanjang. Interior yang luas dari tas ini dirancang untuk memberikan ruang yang memadai bagi barang-barang seperti ponsel, dompet, kacamata, tisu, lipstik, dan botol parfum kecil. Terbuat dari 60% limbah kulit Full Grain berwarna Cobalt Black, dengan tali yang dapat dilepas. Dimensi: 20 cm(lebar) x 13 cm(tinggi) x 5 cm (kedalaman)
Berkerja sama dengan PT. Kreasi Pala Nusantara, sebuah IKM yang menghasilkan limbah kulit sisa potongan kulit dari proses produksi. Dalam setiap pembelian 16 ft kulit, penggunaan efektif hanya mencapai 70-75%, sementara sisanya sekitar 25-30% menjadi limbah yang tidak terpakai dan menumpuk di gudang penyimpanan. Solusi untuk menjawab permasalahan limbah kulit sisa potongan yang timbul dari proses produksi di PT. Kreasi PALA Nusantara, serta sejalan dengan prinsip-prinsip sustainable fashion, adalah penerapan teknik modular interlocking. Pendekatan ini memungkinkan untuk melakukan penyesuaian dan pengembangan desain secara berkelanjutan. Teknik modular interlocking melibatkan pengaturan modul-modul sederhana agar membentuk suatu struktur yang lebih kompleks. Dalam konteks ini, potongan kulit perca yang memiliki karakteristik abstrak dan variasi dimensi yang beragam dapat diubah menjadi produk-produk spesifik melalui pemanfaatan teknik modular. Kemudian, bekerja sama dengan seorang pengrajin kulit lokal berpengalaman dari Cibaduyut, yaitu Mas Agung, untuk tahap pembuatan prototype. Berdasarkan hasil wawancara, terungkap bahwa komunitas pengrajin kulit lokal di Cibaduyut saat ini telah mengalami penurunan. Penyebabnya adalah adanya banyak produk yang dijual di pasar Cibaduyut, bukan dari pengrajin lokal, melainkan dikirim dari luar Bandung.
Indonesia Fashion and Craft Awards 2023
Fesyen
Perumahan Kota Baru Indah Blok B4 no 108 kec. Alam Barajo Kel. Kenali Besar, Kota Jambi, JAMBI.
Produk